Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

25

May

Bertandang Ke Kelenteng Tua Tangerang

Tangerang dikenal sebagai kota industri. Tidak banyak yang mengetahui Tangerang merupakan salah satu basis perkembangan warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Kota yang dialiri Sungai Cisadane ini mempunyai tiga kelenteng tua, Boen San Bio, Boen Tek Bio, dan Boen Hay Bio yang jadi saksi sejarah warga Tionghoa yang berdiam di Tangerang sejak lebih dari tiga abad lalu.

Kelenteng Boen Tek Bio

Bau asap hio sudah tercium dari radius sekitar 150 meter ketika Urban Style berkunjung ke kelenteng Boen Tek Bio. Mirip dengan kelenteng Jin De Yuan (kelenteng Petak Sembilan di Jakarta), kelenteng tertua di Tangerang yang diperkirakan dibangun pada 1684 ini pun berada di kawasan pasar. Siang itu, kelenteng terlihat ramai. Cukup banyak umat yang sedang khusyuk sembahyang. “Setiap tanggal 1 dan 15 tahun Imlek (penanggalan Cina, red), jadwal sembahyang rutin. Hari ini tanggal 15, saatnya sembahyang pengharapan, makanya ramai,” jelas Oey Tjin Eng, Humas Perkumpulan Keagamaan dan Sosial Boen Tek Bio yang menemani Urban Style berkeliling siang itu.

Pria yang rambutnya sudah memutih ini menjelaskan, ketiga kelenteng tua (Boen San Bio, Boen Tek Bio, dan Boen Hay Bio) jika dilihat pada peta maka akan terlihat posisi ketiganya sejajar. Ketiga kelenteng tersebut mempunyai arti kebajikan setinggi gunung dan seluas lautan. “Boen Tek Bio berada di tengah di antara dua kelenteng lainnya. Menurut Hong Sui, posisi Boen Tek Bio bersandar pada gunung dan menghadap lautan,” tambahnya.

Patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) yang menjadi tuan rumah berada di ruang altar utama. Di bagian kiri ruang altar utama terdapat gerbang bundar Pintu Kesusilaan yang jika ditelusuri akan tembus ke gerbang Jalan Kebenaran yang berada di sebelah kanan altar utama. Menurut Tjin Eng, prinsip kelenteng yaitu memuliakan Tuhan dan menghormati leluhur. Oleh karena itu, pada kelenteng selain altar utama biasanya terdapat ruang para suci bagi tokoh-tokoh yang berjasa bagi manusia. Para suci yang terdapat di Boen Tek Bio antara lain, Cauw Su Kong (Dewa Imigran), Dewi Thian Siang Seng Bo (Dewi Penolong Laut), Sum Kwan Thay Tee (Tiga Penguasa Bumi, Langit, Air), Te Cong Ong Po Sat (Penguasa Akhirat), Kwan Seng Tee Kun (Dewa Penjaga Peperangan), Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi), Kong Tek Cun Ong (Dewa Peternakan), Su Beng Cau Kan (Dewa Dapur).

Dalam kelenteng yang didominasi ornamen kayu dan warna merah ini terdapat beberapa benda penting berusia tua seperti lonceng yang berada di sudut kiri kelenteng dibuat pada 1835, Kim Lo (tungku pembakaran kertas emas) dibuat pada 1910, Hio Lo kuningan yang berada di depan altar utama dibuat sekitar 1897 dan di bagian bawahnya terdapat gambar yang menceritakan tentang 24 anak berbakti, dan empat tiang di bagian depan kelenteng berhiaskan naga yang dibuat pada 1904.

Kelenteng yang dijaga oleh dua ekor singa (Ciok Say) di bagian depan ini awalnya hanya kelenteng sederhana. Pada 1844, Boen Tek Bio direnovasi dan sejumlah perangkat dititipkan pada kelenteng Boen San Bio. Renovasi selesai pada tahun yang sama yang merupakan tahun naga. Proses pengembalian perangkat dilakukan dengan sangat meriah dan untuk mengenang peristiwa tersebut, setiap tahun naga (12 tahun sekali) diadakan upacara atau arak-arakan Gotong Toapekong. Boen Tek Bio tidak hanya menjadi tempat persembahyangan umat Kong Hu Cu, tetapi juga umat Budha dan Tao. Di bagian belakang kelenteng juga terdapat Vihara Padumuttara.

Kelenteng Boen San Bio

Sepintas, bangunan Boen San Bio tidak mirip dengan bangunan kelenteng pada umumnya. Kelenteng yang berada tepat di pinggir jalan ini terlihat lebih modern. Bahan bangunan yang digunakan tidak lagi didominasi oleh kayu. Atap bangunannya pun tidak semua berbentuk setengah oval panjang namun berbentuk seperti stupa candi yang dimodifikasi. Warna merah tetap mendominasi. Namun warna lain seperti kuning dan biru juga cukup banyak menghiasi kelenteng yang membuat suasana kelenteng lebih ceria.

Menurut Albert, bagian tata usaha Boen San Bio, awalnya kondisi kelenteng Boen San Bio sangat sederhana. Boen San Bio dibangun oleh Lim Tau Koen, seorang pedagang asal Tiongkok pada 1689. Kelenteng yang terletak persis di pinggir jalan ini mengalami beberapa kali renovasi terutama setelah terjadi kebakaran pada 1998. Kelenteng Boen San Bio terus berbenah diri supaya dapat menjadi objek wisata budaya dan ritual yang terawat dengan baik.

Tuan rumah Boen San Bio, Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi). Ini berawal dari Lim Tau Koen yang menempatkan patung Kim Sin Khong Co Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Sebagai penghormatan pada Dewa Bumi, setiap peringatan hari ulang tahun atau She-jiet Hok Tek Tjeng Sing yang jatuh setiap tanggal 2 bulan 2 tahun Imlek, para petani, pedagang, serta umat umumnya melakukan sembahyang dengan membawa berbagai rasa syukur dan terima kasih atas perlindungan Dewa Bumi. “Tahun ini ulang tahun atau Sejit Khong Co Hok Tek Tjeng Sin ke 321 tahun. Kami mengadakan perayaan bagi wisit hoki dari Dewa Rejeki, Cai Sen Ye pada 2 dan 3 Februari. Ada pula penyalaan lampion, lilin hoki, dan pertunjukkan barongsai,” jelas Albert.

Selain Hok Tek Tjeng Sin terdapat dewa-dewi lainnya yaitu Sam Kai Kong (Dewa Pelindung Manusia, Bumi, Dan Langit), Bie Lek Hud atau Maitreya Bodhisattva (penerus dari Sang Budha), Jie Lay Hud atau Sakyamuni Budha (Pelindung Umat Budha), Kwan Im Hud Cow (Dewi Welas Asih), Co Shu Kong (Dewa Pelindung Perjalanan), Pek How Pek Coa (pengawal Shu Khong), Kwee Sheng Ong (Dewa Kepercayaan), Kwan Tek Kun (Dewa Budi Luhur), Pat Sien Kwe Hay (Delapan Dewa yaitu Dewa dari berbagai sifat manusia yang bertugas untuk menuntun manusia ke kehidupan yang lebih baik).

Dari awal masuk kelenteng yang mempunyai arti kebajikan setinggi gunung ini terlihat banyak lampion yang menggantung. Tidak heran, lampion di sana begitu banyak karena Boen San Bio pernah memecahkan beberapa rekor MURI salah satunya pemrakarsa pemasangan lampion terbanyak yaitu 728 lampion.  Rekor MURI lainnya yaitu Hio Lo yang berada tepat di tengah bagian depan kelenteng yaitu Thian Sin Lo merupakan yang terbesar dan terbuat dari batu onix dengan tinggi 1,2 meter, diameter 1,5 meter, dan berat 4888 kilogram.

Semakin ke belakang, semakin banyak hal unik terlihat dari Boen San Bio seperti adanya Kramat Mbah Raden Suryakentjana dengan bentuk ruangannya menyerupai masjid. Kramat ini bertujuan sebagai penghormatan dan menunjukkan adanya toleransi umat beragama. Albert mengatakan, Boen San Bio tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Kong Hu Cu, tetapi juga umat Budha dan Tao. Bahkan di hari raya umat Muslim pun kelenteng sering melakukan sedekah.

Selain itu, di halaman belakang kelenteng pun terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar tiga meter dan sumur sumber rejeki yang konon didalamnya berdiam anak naga putri hijau. Air tersebut dipercaya memberikan rejeki ataupun supaya enteng jodoh. Terdapat pula pendopo Pecun dengan bagian kepala dan ekor perahu naga yang dibuat pada 1900. Perahu tersebut dibelikan oleh tuan tanah bernama Oey Giok Kun yang ketika bersembahyang di Boen San Bio bernazar membelikan perahu tersebut jika mendapat anak laki-laki.

*dimuat dalam majalah Urban Style edisi 39 (Februari 2011), Foto : Ryan Muhjani